12.10.07
ILMU ATAU NILAI KAH TUJUAN KITA ?
Di era global seperti sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan utama, bukan hanya pendidikan di sekolah saja, tapi pendidikan di perguruan tinggi pun oleh banyak orang dirasa penting. Dengan fenomena ini menjadikan perguruan tinggi di Banjarmasin khususnya semakin berkembang dengan peminat yang tentu saja tiap tahunnya bertambah. Tapi apakah benar tujuan kita mengenyam pendidikan di perguruan tinggi untuk murni menambah ilmu yang kita miliki atau hanya suatu syarat bagi kita yang menginginkan gelar dibelakang nama untuk mempermudah memperoleh pekerjaan. Di benak saya selalu muncul pertanyaan besar itu, apa yang sebenarnya kita cari ilmu yang akan membuat hidup kita lebih bermanfaat ataukah nilai tinggi ditiap semesternya yang akan mempermudah dan mempercepat dalam memperoleh Gelar dibelakang nama kita yang tentu saja memberi kebanggaan tersendiri, selain tentunya mempermudah kita bersaing dalam dunia pekerjaan.
Tidak dapat dipungkiri di zaman global seperti sekarang in, nilai yang tinggi dalam Ijazah serta gelar seseorang menjadi sangat mahal harganya karena dua hal ini akan memudahkan seseorang memiliki kesuksesan materi dalam hidupnya. Lalu bagaimana dengan ilmu? haruskah ilmu bukan jadi alasan utama kita kekampus berjam-jam,mengorbankan waktu, tenaga dan tentu saja materi yang tidak sedikit. Apakah semua hanya demi sebuah nilai yang menghasilkan gelar semata.
Apa tujuan kita sebenarnya, Nilai atau Ilmu? itu lah fenomena yang di alami hampir semua mahasiswa diperguruan tinggi, tapi sedikit sekali orang yang paham dan sadar tentang fenomena ini. Bahkan saya pernah menyakan hal ini pada beberapa mahasiswa di sebuah perguruan tinggi tentang tujuan utama mereka kekampus, dan tanpa ragu sedikitpun mereka menjawab mencari nilai yang tinggi dan gelar dibelakang nama mereka sebagai syarat memperoleh pekerjaan yang mapan dimasa datang, jawaban itu tentu saja tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena diakui atau tidak banyak perusahaan dan instansi yang melihat seseorang dari gelar dan nilai yang dimiliki seseorang, tanpa melihat apakah nilai yang ada di Ijasah tersebut dapat mewakilkan ilmu yang dimiliki. Bisa saja nilai yang kita dapatkan bukan hasil dari kejujuran, karena tujuan utama kita memperoleh nilai tinggi bukan ilmu akan membawa kita pada tindakan yang mau melakukan apa saja demi nilai yang tinggi, hal ini akan berbeda saat kita mengubah niat kekampus dengan tujuan mendapatkan ilmu,melihat dan meletakkan nilai pada urutan kedua maka akan timbul pemikiran bahwa ilmu yang bermanfaat tidak hanya menghasilkan nilai tapi juga hal yang akan berguna di hidup kita mendatang dan semua itu memerlukan kejujuran.
Sebagai seorang mahasiswa saya tidak bisa “memvonis” begitu saja bahwa banyak sekali mahasiswa yang meletakkan nilai diatas segalanya. Tapi, inilah sebuah realita di kehidupan yang tidak bisa diingkari bahwa ilmu dan nilai serta sebuah gelar memang menjadi tujuan semua orang yang datang dan melanjutkan pendidikan pada sebuah perguruan tinggi. Kita juga tentunya tidak dapat mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, fenomena ini akan dapat terselesaikan apabila kita bersama mencari jalan keluarnya, agar seseorang yang melanjutkan studinya diperguruan tinggi bisa menempatkan ilmu pada urutan pertama. Tentunya Semua tergantung pada diri seseorang tersebut, dimana dia meletakkan ilmu dalam tujuan pendidikannya di perguruan tinggi, apakah ilmu akan jadi prioritas nomer satu atau justru nilailah yang berada diatas segalanya. Mari kita berkaca dan Tanya hati nurani kita, apakah tujuan utama kita kekampus ada pada nilai atau kita kekampus dengan niat ingin menuntut ilmu yang bermanfaat buat bekal kita baik di dunia maupun akhirat. Hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya. Selain niat dari diri kita masing-masing pihak perguruan tinggi tersebut khususnya fakultas juga akan cukup berperan dalam tujuan utama mahasiswa belajar di kampus,pihak fakultas dapat memberi fasilitas senyaman mungkin bagi mahasiswa yang belajar, karena bisa jadi kenyamanan “mengenyam” pendidikan diperguruan tinggi kemungkinan dapat mengubah tujuan kita kekampus, misalnya saja proses perkuliahan tidak hanya terfokus dalam ruangan, bisa saja fakultas memberi fasilita perkuliahan diluar rungan contohnya saja di taman atau di lingkungan lain selain kampus, seperti yang dilakukan oleh sebuah fakultas di UI yaitu mengadakan perkuliahan seminggu sekali di sebuah café dan cara ini cukup efektif bisa mengurangi kejenuhan mahasiswa dalam belajar, serta dapat menambah minat mereka akan ilmu tersebut dan bisa membawa mereka pada tujuan utama belajar yaitu benar-benar ingin menambah ilmu yang kita miliki agar hidup kita bisa lebih berguna tidak hanya bagi diri sendiri tapi juga bagi Bangsa dan Negara kita.
Oleh ; Dina Yulinda
Mahasiswi FKIP Sejarah UNLAM
JADILAH WANITA YANG KUAT
Oleh : Dina yulinda
Mahasiswi FKIP Sejarah Unlam
Wanita adalah mahluk yang lemah dan harus dilindungi. Istilah tersebut seakan tak asing lagi bagi kita. Bahkan, karena istilah tersebut banyak pihak yang melihat wanita “ sebelah mata”, meski sekarang muncul tren baru yaitu adanya persamaan “gender” antara pria dan wanita yang “katanya” dapat memperluas gerak wanita dalam banyak hal.
Persamaan gender ini seakan menambah kekuatan wanita untuk berkarir ataupun berkarya, seperti yang diperjuangkan R.A Kartini yang “ngetop” dengan perjuangannya dalam mengangkat harkat dan martabat wanita Indonesia. Banyak wanita Indonesia yang sukses dalam berkarir diberbagai bidang termasuk dunia politik, bahkan Negara kita pernah dipimpin oleh seorang wanita, hal ini sungguh suatu cermin kemajuan wanita masa sekarang, yang tentu tak didapati oleh wanita dulu, karena wanita dulu cenderung hanya dianggap pelengkap kehidupan pria. Padahal, wanita diciptakan sebagai “sahabat setia’’ pria. Namun, benarkah wanita sekarang sudah sekuat seperti yang selalu diharapkan Kartini, lalu mengapa kadang masih banyak kita temukan wanita-wanita yang terpuruk dengan kelemahannya dan dibawah ketertindasan seperti pada zaman Jahiliyah yang memandang hina kodrat wanita??
Wanita diciptakan dengan segala kelembutan dan keindahannya. Wanita mempunyai “sejuta” kelebihan dalam dirinya yang tak dimiliki oleh pria. Wanita yang notabenya dikodratkan sebagai “teman hidup” pria, mempunyai karakter yang halus dan sensitive menjadikannya teman berbagi yang setia. Undang-undang pun memberikan perlindungan khusus pada wanita, sebuah hadis mengatakan “ wanita adalah tiang Negara, jika rusak maka Negara juga akan rusak, dan jika baik Negara juga menjadi baik”, bahkan dalam Kitab suci Al-qur’an terdapat surah An-Nisaa yang berisi segala hal tentang wanita. Dari sini kita bisa melihat betapa berharganya wanita baik dari sisi Agama ataupun Negara. Orang bijak pun selalu mengatakan, “Dibalik kesuksesan seorang pria,selalu ada campur tangan wanita yang hebat didalamnya” Dengan semua yang dimilikinya wanita menjadikan dunia berwarna. Tapi banyak wanita yang tak menyadari kelebihannya dan karena inilah akhirnya wanita jadi sosok yang lemah.
Dalam kehidupannya wanita memiliki kepekaan hati dalam tiap masalah yang dilaluinya Harusnya dengan kepekaan hati dan semua yang dimilikinya bisa jadi pegangan bagi wanita untuk terus kuat dan tegar dalam menjalani hidupnya. Sebagai wanita saya sadar, bahwa kadang wanita menjadikan beban tiap masalah yang dimilikinya, karena sensitifitas perasaan yang dimilikinya. Tapi disinilah “keunikan” yang dimilikinya, wanita cenderung lebih dulu berfikir dalam tiap langkah hidup yang akan diambilnya ,termasuk ketika dia harus berhadapan dengan masalah-masalah yang dimilikinya. Keunikan ini harusnya jadi kekuatan wanita, karena wanita dapat lebih kuat dengan semua kelebihannya. Jangan pernah jadi wanita yang terpuruk dan lemah hanya karena permasalahan hidup yang seakan menginginkan wanita jatuh dan lemah. Jadi wanita yang percaya dan yakin pada diri sendiri tentang kekuatan yang dimiliki wanita. Dengan itu semua akan mengantar kita menjadi wanita yang berprestasi dan memiliki kebahagiaan hidup seutuhnya.