03.10.08

KOMENTAR MK ANTROPOLOGI

Ditulis dalam Uncategorized pada 9:49 am oleh dinayulinda

Komentar MK. Antropologi : Kebudayaan Korupsi

            DINA YULINDA Feb 27th, 2008 at 10:12 am

Korupsi…..ogh…Korupsi…
Indonesia dan korupsi seakan dua hal yang sangat sulit dipisahkan, bahkan Indonesia dengan “ bangga “ bisa termasuk di jajaran papan atas Negara terkorup di dunia. Menjadikan masyarakat kita berbudaya anti korupsi seakan pungguk merindukan bulan. Bagaimana tidak, budaya curang dan sogok-menyogok sudah tertanam di diri kita sejak dini. Misalnya saja, banyak orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya bekerja di sebuah instansi demi gengsi ataupun atas nama masa depan yang terjamin, sang orang tua pun rela merogok kantong sedalam mungkin asal sang anak dapat pekerjaan tersebut, dan setelah bekerja sang anak pun seperti ingin ” balik modal “ dengan mau nerima sogokan dari orang lain, dan begitu seterusnya hingga budaya curang, sogok-menyogok, korupsi, sepertinya biasa di masyarakat kita, bahkan bagi sang pelaku bukan hal tabu untuk jadi topic pembicaraan. Jika untuk memperoleh pekerjaan yang mapan semua harus menyogok, lalu bagaimana nasib si Miskin, yang tak mampu menyogok, apakah mereka tak berhak mendapat pekerjaan yang yang mapan?? Bukankah persaingan otak lebih mulia dari pada persaingan siapa yang paling besar menyogok..Namun,itu lah yang terjadi pada masyarakat kita sekarang…tragis…..
Pemahaman saya, mengenai wujud kebudayaan singkatnya yang yaitu, kegiatan yang dilakukan manusia secara terus-menerus dalam masyarakat, buah dari pemikiran dan menimbulkan hasil. Seperti halnya korupsi, tindakan tersebut hasil pemikiran manusia, dan terus-menerus dilakukan hingga akhirnya jadi sebuah budaya di Indonesia tercinta ini. Bila kebudayaan pada masyarakat kita saja sudah seperti itu ( korupsi maksudnya ) bagaimana bangsa kita bisa maju. Merubah tradisi memang sangat sulit, tapi kalau tidak sekarang, kapan lagi kita memperbaiki bangsa kita dari budaya “ kotor” tersebut. Kita mempelajari antropologi, agar lebih memahami masyarakat kita termasuk budayanya, dan berusaha berbenah diri kearah yang lebih baik guna membangun kembali masyarakat Indonesia yang sudah mulai buruk di mata dunia.

  

Komentar MK. Antropologi ; Bangsa Pelaut Bangsa Saudagar

           DINA YULINDA Mar 3rd, 2008 at 1:18 pm

Menilik pada sejarah Bangsa ini, sebuah Bangsa yang kaya akan SDA hingga melancarkan usaha penduduknya untuk berdagang, karena itu lah dimasa lampau Bangsa ini melahirkan saudagar-saudagar besar. Bangsa ini memiliki banyak saudagar besar, dari situ terlihat jelas jiwa bangsa ini yaitu “ jiwa dagang “. Namun, sangat disayangkan hal ini tak terbaca oleh bangsa kita sendiri, padahal jika jiwa tersebut disatukan dengan SDA yang kita miliki, bukan hal yang sulit buat kita menjadi bangsa yang besar karena mempunyai banyak saudagar.
Kenyataan ini justru terbaca oleh bangsa asing, hal ini tak lain karena keberhasilan mereka mempelajari budaya dan kehidupan masyarakat kita. Itu lah faktanya.
Bercermin dari hal tersebut, sudah saatnya kita mempelajari kebudayaan dan masyarakat kita demi terbentuknya masyarakat kea rah yang lebih maju. Jika dimasa lampau Nusantara bisa jaya karena para saudagar local yang ada, tidak salahnya saat ini kita membangun bangsa dengan jiwa dagang yang dimiliki masyarakat kita dari dulu. Kita harus mensukseskan bangsa ini dengan para saudagar asli, bukannya menjadikan bangsa asing sebagai saudagar sukses di Negara kita.
Dengan itu, mari bersama-sama kita mempelajari budaya dan masyarakat kita demi kemajuan bangsa kita sendiri, dan agar SDA yang kita miliki bisa dimanfaatkan oleh bangsa sendiri dan demi kepentingan seluruh bangsa ini. Bukan Cuma kepentingan pribadi.

Komentar MK. Antropologi : Proses Belajar Kebudayaan

      DINA YULINDA Mar 5th, 2008 at 3:45 pm

Masyarakat dan kebudayaan adalah dua hal yang berhubungan erat, bahkan tak bisa terpisahkan karena keduanya saling ketergantungan. Kebudayaan dibangun oleh masyarakat, sedangkan masyarakat terbentuk karena hasil kebudayaan.
Misalnya saja, sejak lahir ke dunia manusia sudah diharuskan mengikuti bagian dari kebudayaan. Contohnya saat seorang anak lahir kedua orang tuanya dituntut oleh adat yang berlaku yaitu acara pemberian nama pada sang anak di sertai acara mendoakan anak agar sesuai harapan. Hal ini, tak pernah ada dalam undang-undang, tapi pada sebagian masyarakat apabila ada yang tak melaksanakan dianggap melanggar adat artinya melakukan penyimpangan kebudayaan yang sudah merekat pada masyarakat. Dari gambaran diatas tercermin seorang bayi yang baru lahir, tak paham ataupun mengerti tentang kebudayaanpun harus mengikuti unsur kebudayaan dimana dia dilahirkan, dan akan begitu seterusnya. Dari sini terlihat, manusia tak kan mampu lari dari kebudayaan, sebaliknya kebudayaan sangat membutuhkan manusia sebagai pelaku kebudayaan.
Antropologi disini sebagai ilmu yang mempelajari manusia (khusus) ataupun masyarakat (umum), secara tak langsung mempelajari kebudayaan yang ada di masyarakat tersebut, karena manusia atapun masyarakat takkan bisa dipisahkan dari kebudayaan. Sejak lahir sampai meninggal manusia akan terikat pada kebudayaan dan dituntut untuk terus belajar dan menjalankan kebudayaan yang ada pada masyarakatnya.

 Komentar MK. Antropologi : Kepribadian Pengantar Populer

 DINA YULINDA Mar 6th, 2008 at 4:42 pm

Setiap manusia dimuka bumi ini pasti memiliki kpribadian yang tentunya berbeda tiap manusia. Kpribadian sangat diperhitungkan dalam kehidupan. Bahkan kadang kpribadian inilah yang menentukan keberuntungan kita.
Misalnya, dalam mencari pekerjaan orang akan menilai layak atau tidaknya kpribadian kita bekerja di tempat mereka, demikian juga dengan even – even lainnya. Kpribadian sangat penting, tengoklah pada kontes – kontes kecantikan ataupun yang serupa meletakkan kpribadian yang baik sebagai salah satu syarat untuk pesertanya. Yach!!! begitulah teramat sangat penting kpribadian itu.
Setiap manusia mempunyai kpribadian jelas jawabannya “Iya” karena, hal ini menjadi pembeda manusia dengan binatang. Saya tidak setuju jika manusia disamakan dengan binatang dikarenakan manusia dengan binatang memang beda, ( liat saja b bentuk binatang tidak ada yang sama dengan manusia ).
Namun saya sependapat bila ada orang yang berkata, ada beberapa manusia yang berkpribadian seperti binatang. Lihat saja banyak orang mengambil yang bukan haknya, orangtua memperkosa anak sendiri dan saling membunuh, bukankah tindakan itu adalah tindakan yang dilakukan oleh binatang, manusia dikaruniai akal dan fikiran kenapa bisa melakukan hal seperti itu….Aneh juga sich….

***ha ha, siapa yang bilang sama euy … itu tadi, ada drive yang sama; contoh kalau lapar sama-sama pingin makan, tapi … manusia mikir dulu, gunakan rasanya … kalau binatang main embat saja. Kalau, manusia seperti kelakuan binatang ya main embat aja; akal dan budinya ngak berfungsi.
Tapi itulah kpribadian seseorang tidak ada yang bisa menentukan selain orang itu sendiri. Sekarang kpribadian kita ditentukan oleh diri sendiri apakah kita ingin dikenal sebagai manusia yang berkpribadian baik ataupun buruk semuanya kembali kepada kita sendiri.