06.26.08

komentar MK antropolgi, mahasiswa menulis

Ditulis dalam Uncategorized pada 9:58 am oleh dinayulinda

Alhamdulillah…Ewa membuat gebrakan baru ” memaksa mahasiswa khususnya yang mengambil MK antropologi menulis “…awalnya memang terkesan memaksa+ diselingiancaman..lumayan menakutkan, tapi itu hanya awal cerita, diakui atau tidak ancaman itu sekarang kita nikmati, bagaimana tidak dalam hitungan minggu kita akan melihat hasil karya kita. itulah bedanya saat mahasiswa di tuntut menulis dan berdiskusi, ketika berdiskusi dan selesi takkan ada sisa yang bisa kita tampilkan di esok hari, tapi saat kita menulis dan menjadi sebuah tulisan maka esok hari ataupun saat kita meninggal, maka tulisan itu akan slalu ada dan memaksa orang untuk ingat dngan kita saat melihat tulisan tersebut. setiap manusia pasti bisa menulis dan mmpu menulis semua hanya tergantung niat sang penulis inginmenulis atau tidak, terlepas dari apapun niat mahasiswa yang mengambil MK Antropologi untuk menulis, mereka telah membuahkan sebuah tulisan yang mudah – mudahan jadi langkah awal mereka membiasakan diri menulis.

06.12.08

ANTARA KEBERSIHAN SAMPAH DAN CITRA FKIP

Ditulis dalam Uncategorized pada 5:05 am oleh dinayulinda

Kebersihan sebagian dari pada iman, begitu ucapan Rasul kita Muhammad SAW yang selalu kita pegang. Tidak hanya islam, semua agama mengajarkan tentang perlunya kebersiahan dalam kehidupan. Berbicara tentang kebersihan kita pasti akan teringat dengan yang satu ini yaitu sampah, hal yang bisa jadi sumber permasalahan terutama saat kita hendak menegakkan kebersiahan di lingkungan kita.
Kebersihan merupakan hal yang mutlak dalam kehidupan manusia, terlepas dari bagaimana seseorang memandang arti kebersihan itu sendiri. Di mana saja dan kapan saja layaknya kebersihan harus selalu di tegakkan, tak terkecuali di FKIP Unlam. Sebagai sebuah sarana pendidikan, FKIP di tuntut mampu membuat citra diri sebagai tempat yang bersih dan bebas sampah. Karena tak bisa di tolak kebersihan ataupun sampah yang berserakan di tempat “ menimba ” ilmu sangat mempengaruhi kenyamanan dalam proses belajar – mengajar. Bayangkan saja, apakah kita bisa konsentrasi penuh dalam belajar apabila ruangan tempat kita belajar penuh dengan kulit permen, wadah sisa makanan ataupun minuman, saya yakin pasti tidak akan betah. Orang Bijak mengatakan jika ingin menilai seseorang lihatlah dari kebersihan tempat – tempat dalam hidupnya. Lalu bagaimana pandangan orang seandainya melihat kita dari lingkungan kampus yang banyak melahirkan tenaga dalam bidang pendidikan tersebut ? , bagaimana dengan kebersihan dan sampah yang ada di FKIP ?, siapa yang patut di mintai pertanggung jawaban mengenai kebersihan di FKIP dan bagaimana dengan kesadaran orang – orang yang ada di FKIP ?
Dalam kehidupan ketika kita membahas kebersihan sepertinya itu sesuatu yang mutlak, sama dengan kemutlakan kita dalam menghentikan sampah yang berada di tempat yang tidak seharusnya iya berada. FKIP merupakan salah satu fakultas yang luas dan memiliki jumlah mahasiswa terbanyak di bandingkan dengan fakultas – fakultas lain di Unlam. Sebagai tempat belajarnya para calon guru maka keharusan bagi pihak FKIP memberi citra yang baik pada masyarakat, termasuk mengenai kebersihan lingkungan. Kebersihan di fkip sepatutnya di jaga oleh seluruh pihak.
Sejak berada di jenjang pendidikan paling dini di masa kita yaitu TK kita di ajarkan tentang bagaimana menjaga kebersihan, salah satunya dengan membuang sampah pada tempatnya. Lalu lihatlah FKIP kita sepertinya banyak orang di fkip lupa dengan ajaran tersebut. Hal ini dapat terlihat nyata oleh kita, banyaknya sampah yang berserakan dimana – mana. Tentunya hal ini sangat tak pantas terjadi di sebuah sarana pendidikan. Tapi, itulah kenyataan yang terjadi sekarang. Melihat fakta ini sangat tidah adil kalau kita hanya bisa “ memvonis ” petugas kebersihan yang lalai dalam menjalankan tugasnya, karena kita semua dapat menyaksikan sendiri tiap pagi dan sore setelah selesai perkuliahan petugas kebersihan menjalankan tugasnya dengan baik. Sekarang tergantung bagaimana kita ikut memelihara kebersihan tersebut. Tak jarang kita sendiri yang lengah dan tanpa sadar mmembuang sampah tidak pada tempatnya. Namun, bukan mahasiswa namanya kalau tidak pandai mencari alasan banyak alasan yang di lontarkannya. Misalnya, jauh dengan tempat sampah, atau menyalahkan kucing yang ikut serta mengobrak – abrik tempat sampah hingga sampah berhamburan dimana – mana. Masa selalu menyalahkan kucing, kucing tetaplah kucing dan kita manusia jangan hanya bisa menyalahkan kucing, tetapi berusahalah agar tidak seperti kucing yang membuang sampah tidak di tempatnya.
Rasanya tidak bijak kalau kita terus – menerus mencari “ kambing hitam ” yang ingi disalahkan, karena kebersihan adalah tanggung jawab kita bersama. Pihak fakultas mencoba menangani masalah ini dengan meletakkan bak sampah di tiap sudut kampus, tapi ternyata hal itu tak cukup, penempatan bak sampah di tiap ruang kelas juga dirasa sangat membantu melihat banyaknya sampah yang juga berserakan di dalam ruang kelas. Selain itu, fakultas juga seharusnya menambahkan jumlah tenaga kebersihan di fkip yang tidak hanya bekerja pagi sore tapi bisa bekerja kapan saja.
Di atas semua hal yang saya sebutkan, ada baiknya kita semua pihak yang ada di fkip terlibat dan lebih peduli dengan kebersihan lingkungan di fkip. Dengan menjalankan gerakan membuang sampah pada tempatnya. Hal ini dilakukan dengan, tidak membuang wadah ataupun sisa makanan di sembarang tempat, berusahalah mencari tempat sampah kalau belum ketemu simpan saja dulu ke kantong atau tas. Dermawan lah sedikit dalam hal ini, apabila berjalan dan menemukan sampah yang berserakan tidak pada tempatnya jangan di cuekin pungut dan buang lah sampah itu ke tempatnya, walaupun sampah tersebut bukan bekas kita tapi kerelaan kita melakukannya anggap saja sebagai jihad dalam menegakkan kebersihan dan yang paling penting disiplin pada diri sendiri agar tidak membuang sampah sembarangan. Semua ini penting kita lakukan tidak hanya bagi kesehatan ataupun keindahan lingkungan kita, tapi juga citra fakultas yang kita pertaruhkan, tentu sangatlah tak bangga kalau sampai fakultas kita di nobatkan sebagai fakultas terkotor dengan jumlah sampah yang berserakan terbanyak. Demi menjaga citra baik fakultas kita di harapkan tiap orang yang ada di fkip sadar akan pentingnya kebersihan dan ikut serta dalam menjaganya

KOTA SERIBU PENGEMIS

Ditulis dalam Uncategorized pada 5:02 am oleh dinayulinda

Banjarmasin kota seribu sungai, julukan itu sudah melekat lama pada ibu kota Kalimantan Selatan. Namun, sadarkah kita dewasa ini kota tercinta kita seakan memiliki gelar baru di “ tubuhnya ” yakni kota seribu pengemis. Seperti sudah jadi hukum alam tiap kota besar akan di kelilingi para pengemis. Memang sangat miris mendengarnya tetapi itu lah fakta yang terjadi di Banjarmasin sekarang. Apa yang menyebabkan kenyataan itu ada dan siapa yang harus di salahkan??. Rasanya sangat sulit menemukan jawaban dari semua itu.
Menilik Banjarmasin di masa lalu kota Banjarmasin sekan sangat “ bersih ” tidak hanya dari sampah tapi juga dari gepeng maupun pengemis. Fakta itu sangat berbanding terbalik dengan Banjarmasin sekarang, kemajuan Banjarmasin dalam berbagai bidang juga berdampak pada kemajuan jumlah pengemisnya yang semakin meningkat. Saat ini, tiap sudut kota Banjarmasin seakan tak luput dari bayang – bayang pengemis. Tengok saja di lampu – lampu merah yang ada di kota Banjarmasin, di tempat – tempat makan di pinggir jalan, bahkan kadang pengemis pun berani masuk restoran. Sesuatu keberanian yang wah..tdak hanya itu bahkan para pengemis pun nekad datang ke rumah – rumah demi mendapat kan rupiah. Krisis ekonomi sejak tahun 1998 yang terus berlanjut hingga sekarang menjadi salah satu faktor keberadaan pengemis tersebut, untuk menyambung hidup mereka mengorbankan harga diri dengan mengharap belas kasian orang lain. Dalil lain sulitnya mencari pekerjaan dan terbatasnya pendidikan yang pernah di jalani. Tapi wajar kah semua itu menjadi alasan mutlak mereka, lalu apakah tak ada jalan lain untuk menyambung hidup selain mengemis ??
Rasul kita Muhammad SAW dalam hadist nya menyebutkan bahwa seseorang yang tangannya di atas lebih mulia dari pada orang yang tangannya di bawah. Rasul juga selalu menganjur kan umatnya untuk berusa dan bekerja keras. Terlihat jelas, bahwa Rasul kita menganjurkan selagi fisik kita mampu untuk terus berusaha. Tapi hal itu seakan banyak terlupakan oleh sebagian orang. Kita lihat saja pengemis – pengemis yang berkeluyuran bebas tak hanya terdiri dari orang – orang yang sudah “ setengah abad ” tapi juga mereka yang masih kuat untuk bekerja, bahkan mereka mengemis dengan menggunakan pakaian rapi, tak jarang menggunakan motor dan bertopeng sumbangan untuk yayasan ataupun banyak hal, entah apa yang terjadi pada mereka budaya malas seakan tercermin di diri mereka, seandainya saja mereka mau banyak pekerjaan yang tak memerlukan pendidikan tinggi untuk bisa di terima di sana masih banyak perusahaan yang memerlukan buruh yang bekerja pada mereka ataupun orang – orang yang memerlukan pembantu. Semua itu terlupakan oleh mereka, berganti dengan kenikmata menghasilkan rupiah dari belas kasian orang tanpa harus bekerja, fakta yang lumayan pahit bagi reputaasi kota kita.
Dalam kasus tersebut pemerintah seakan tak bisa berbuat apa – apa, bagaimana tidak, pemerintah memang sudah mengatur ketertiban para pengemis yang beraksi di lampu merah atau pun jalan – jalan raya. Tapi mereka ( para pengemis ) seakan tak habis akal dalam melakukan aksinya, di lampi merah memang akan di bersihkan oleh petugas, mereka mencari lahan baru yakni berjalan kerumah – rumah penduduk di Banjarmasin, mengetok dari pintu – ke pintu mengharap belas kasian sang pemilik rumah, dan tentunya itu sangat mengganggu sang pemilik rumah, saya rasa 90 % pemilik rumah yang di datangi para pengemis akan merasa terganggu dengan hadirnya tamu tak di undang tersebut. Anehnya lagi, seperti memiliki sambungan telepati antar pengemis kita tak bisa memberi satu dari mereka karena yang lainnya pun ikut datang dan terus datang.
Memberi sumbangan atas dasar kemanusiaan memang wajar dan di anjurkan oleh agama manapun, tapi kalau kita terus – terusan begitu sama saja kita melestarikan budaya “ pengoler ” sebagian kelompok, akan timbul hasrat mengemis lebih menyenangkan dari pada bekerja sebagai buruh karena tak menguras banyak tenaga dan hasilnya sama menghasilkan rupiah. Dalam hal ini, kita tak bisa berharap banyak dari pemerintah karena pemerintah pun seakan kewalahan jika harus melakukan rajia keseluruh pemukiman masyarakat Banjarmasin untuk mengamankan pengemis. Tapi tak ada salah nya pemerintah bersama – sama memikirkan dan melakukan sesuatu untuk mereka ( para pengemis ) teersebut agar kota kita ini bersih dari para pengemis tidak hanya di jalan tapi juga di tempat kita tinggal, ini semua demi kemajuan dan reputasi kota kita di mata dunia. Dan tak ada lagi gelar kota seribu pengemis.

ASAL MULA KUE KELEPON

Ditulis dalam Uncategorized pada 4:56 am oleh dinayulinda

Kue kelepon siapa yang tak menyukainya, hampir semua kalangan masyarakat menyukai kue berbentuk bulat– bulat berwarna hijua, berisi gula merah dan ada kelapanya tersebut. Kelepon tentunya sudah tak asing lagi bagi kita semua orang Kalimantan,khususnya yang tinggal di Martapura maupun wisatawan yang datang kedaerah kita, banyak yang tak ingin ketinggalan menikmati khasnya rasa kelepon. Kelepon di anggap salah satu kue khas kota Intan tersebut. Apabila kita berkunjung ke kota Martapura selalu teringat akan jajanan khasnya salah satunya kelepon, namun saat ini ketika ingin menikmati kelepon asli Martapura kita tak perlu sulit lagi harus bertandang ke Martapura, karena di pasar – pasar tradisional di daerah Banjarmasin pun banyak pedagang yang menawarkan kelepon, selain itu di lampu – lampu merah di Banjarmasin pun banyak pedagang – pedagang yang menjajakan kelepon asli Martapura. Jadi tak harus pergi ke Martapura hanya demi mengikuti hasrat menikmati kelepon.
Kelepon disukai dan tersohor dimasyarakat kita sudah pasti, disukai kalangan atas, menengah bahkan bawah karena harganya yang relatif murah, selain itu kelepon tidak hanya digemari para kakek – kakek ataupun kalangan dewasa saja, tapi juga anak – anak dan remaja. Namun taukah kita semua tentang asal usul dari kelepon. Dari cerita ini kita dapat mengetahui asal mula kue yang banyak digemari tersebut.
Dahulu kala, hidup seorang janda bersama putrinya bernama Galuh di suatu daerah di Martapura. Sejak ditinggal suaminya meninggal dunia janda tersebut hanya hidup bersama Galuh putri semata wayangnya. Sang janda pun sering sakit – sakitan sepeninggal sang suami. Sang janda mempunyai kebiasaan yaitu senang membuat kue, kebiasaan ini di jalaninya sejak sang suami masih hidup hingga suaminya meninggal dunia. Selain demi keluarga sang janda juga membuat kue untuk dijual demi membantu sang suami dalam membangun ekonomi keluarga mereka, terlebih saat sang suami meninggal sang janda harus berusaha keras untuk tetap bisa menghidupi Galuh putri kesayangannya. Kue buatannya pun sangat lezat dan digemari banyak orang karena itu sang janda banyak mempunyai pelanggan, selain kelezatan kue buatannya biasanya tetangga merasa kasihan melihat hidup sang janda bersama putrinya, sepeninggal kepala keluarga mereka hidup dari hasil berdagang kue, maka para tetangga berusaha membantu perekonomian sang janda dengan membeli kue buatannya.
Pada zaman dulu pembuatan kue tentunya tidak secanggih dan sehebat seperti saat ini, kue pada saat itu pun tidak banyak macamnya. Orang zaman dulu hanya bisa membuat kue sederhana, misalnya kue buatan sang janda hanya dengan memasukkan beras kedalam lesung. Wadah yang berbentuk kotak terbuat dari kayu Ulin ditengahnya terdapat bolongan yang digunakan sebagai tempat makanan serta kayu Ulin yang panjang untuk menghaluskan makanan didalamnya yang biasanya disebut Lasung. Setelah beras dimasukkan kedalam lasung kemudian ditumbuk hingga halus, setalah halus dimasukkan kedalamnya gula merah yang sudah dilunakkan. Dan dicampur kelapa yang diambil hanya dalamnya ( dagingnya yang berwarna putih ) diiris tipis kemudian kembali dihaluskan dalam lasung. Semua bahan dihaluskan hingga jadi satu dan agak mengeras. Hal tersebut dikarenakan hawa di lasung yang panas hingga kue seperti dimasak yaitu mengeras dan semua adonan menjadi satu.
Setelah menjadi satu dan mengaras adonan kue tersebut di bentuk bulat – bulat menggunakan sendok. Karena campurannya selain beras ada pula gula merah dan kelapa rasanya pun menjadi gurih dan nikmat, perpaduan bahan yang menggoda selera, saat itu kue tersebut dinamakan Wadai masak di lasung.
Sang janda pun mencari nafkah melalui berdagang Wadai masak di lasung tersebut. Kondisinya yang sudah mulai tua membuat fisik sang janda tak sekuat dulu, ia pun sering didera sakit – sakitan. Pada suatu malam sang janda sakit dan ingin sekali makan wadai masak di lasung. Kecintaan Galuh pada ibu nya menuntunnya untuk selalu bisa mengikuti kehendak sang ibu, terlebih lagi mereka hidup hanya berdua di dunia ini dan sang janda tersebut sangat mengasihi Galuh, karena itu sebagai anak Galuh sangat mencintai ibunya. Di lubuk hati terdalamnya sangat sedih melihat keadaan ibunya yang terbujur sakit dan tak berdaya. Hati Galuh terpanggil untuk membuktikan baktinya sebagai seorang anak terhadap orang tua yang sudah mengandung, melahirkan, dan dengan segenap jiwa raga serta kasih sayangnya membesarkan Galuh.
Walaupun hari telah malam, melihat keinginan ibunya yang sedang sakit Galuh pergi ke dapur untuk membuat kue, sambil merebus air di kendi yang berukuran besar untuk minum ibunya. Sambil merebus air Galuh segera mulai membuat kue dengan memasukkan beras kedalam lasung. Ternyata lasung baru saja dicuci dengan air dan ditengkurapkan guna mengeringkan air yang meresap di lasung. Setelah itu Galuh hendak memakai lasung maka di ambilnya lasung dan ternyata terdapat kalajengking di dalam lobang tempat pembuatan kue di lasung tersebut. Galuh terkejut dan takut melihat kalajengking tersebut tanpa sadar ia berteriak meminta tolong, ibunya yang sedang istirahat ditempat tidur ikut terkejut mendengar teriakan Galuh kemudian menanyakan apa yang terjadi, namun Galuh berusaha menyembunyikan apa yang sudah ia temukan di lasung, karena tak ingin ibunya khawatir Galuh mengatakan tak ada apa – apa. Niat Galuh membuatkan kue buat ibunya sudah bulat rasa takut terhadap kalajengking dihilangkannya, sekuat tenaga Galuh membuang kalajengking yang ada di lasung milik ibunya tersebut. Dan usaha Galuh tak sia – sia kalajengking berhasil di usirnya dari lasung dengan menggunakan kayu bakar yang ada didapurnya.
Pada masa itu tak ada kompor, memasak hanya dengan menggunakan kayu. Sang janda menyadari Galuah sudah sangat lama berada di dapur namun tak ada juga bunyi lesung. Lama Sang janda memanggil, ” luh, lambatnya, kenapa ? “. ” Hadangpun” sahut sang anak. Untuk orang Banjar, apabila menjawab panggilan orang yang lebih tua ataupun yang dihormati biasanya menggunakan “ pun ” yang berarti iya.
Setelah mendengar sahuta Galuh, ibunya pun terdiam beristirahat sambil menunggu kue buatan sang anak. Setelah lama ditunggu masih tak terdengar bunyi lasung tanda dimulainya pembuatan kue. Sang janda kembali menegur Galuh, “ banyu menggurak sudah dalam kendi, model kendi halus tuh sudah menggurak masih kada tedangar bunyi lasung pabila pulang ”. Sang ibu sedikit jengkel dengan anaknya, sang ibu merasa bahwa sudah lama anaknya berada di dapur tapi belum juga terdengar lasung berbunyi tanda beras dihaluskan. Kemudian membandingkan merebus air dikendi yang besar saja sudah mendidih, tapi Galuh belum juga menghalusakan adonan kue.
Sang ibu memanggil Galuh kembali, “ luh balum haja kah? ”. “ Kalapun ” jawaban Galuh menyahuti pertanyaan ibunya. Galuh merasakan kejengkelan ibunya, Galuh berusaha memberitahukan ibunya ada kalajengking di dalam lasungnya, sehingga terlambat membuat kue. Karena gugup sahutan Galuh terhadap ibunya menjadi “ kalapun ”.
Setelah berhasil membuang kalajengking Galuh mulai membuat adonan kue. Dimulai membuat beras dalam lasung kemudian dihaluskan dengan cara di tutuk. Setelah menghaluskan beras, karena sudah terlalu lama membuat kue dan keinginan Galuh agr ibunya yang sedang sakit segera makan kue, beras yang sudah dihaluskan dibentuk bulat – bulat setelah itu di masukkan Galuh kedalam air mendidih. Setelah bulatan dimasukkan kedalam air mendidih ditunggu hingga bulatan muncul kepermukaan air yang menandakan kue sudah matang dan bulatan tersebut dianggkat menggunakan sendok sampai semua adonan matang, kemudian di letakkan dam piring, dengan kreasi ingin mempermanis kue tersebut maka Galuh menyisipkan gula merah ditengah kue tersebut dan kemudian diperutkannya kelapa di atas kue tersebut.
Setelah itu Galuh menemui ibunya dengan membawa kue kreasinya itu, sang ibu terkejut mengapa kue yang dibuat Galuh tak sama seperti kue buatannya. Lalu dicicipinya kue buatan putri tersayangnya, ia kembali terkejut karena kue tersebut memiliki rasa yang begitu enak. Sang ibu pun memuji kepandaian Galuh membuat kue.
Pada saat itu ada tetangga yang datang kerumah Galuh, karena mendengar ibu Galuh sakit. Saat datang, ibu Galuh meminta tetangganya tersebut mencicipi kkue buatan Galuh, hasilnya sama ketika ibu Galuh pertama mencoba kue tersebut. Tetangga kemudian bertanya apa nama kue trsebut, Galuh terdiam ia tak tau apa nama kue tersebut karena kue itu ia buat sendiri tanpa petunjuk siapapun, bahkan terkesan sembarangan karena hanya ingin ibunya cepat mencicipi kuenya dan tak ingin sang ibu merasa marah ataupun jengkel kepadanya. Saat Galuh terdiam tetangganya heran, dan kembali menanyakan nama kue enak buatan Galuh tersebut. Sang janda ingat bahwa tadi putrinya Galuh menyebut kalapun, lalu ia mengatakan bahwa kue tersebut bernama kalapun.
Sejak saat itu kue tersebut dijadikan Galuh sumber rezekinya. Galuh tak ingin lagi ibunya yang sudah tua dan sakit – sakitan berdagang kue, Galuh mengambil alih semua yang dilakukan ibunya. Galuh mencari rezeki untuk hidup ia dan ibunya dengan berdagang kue kelepun.
Seiring perkembangan zaman yang terus mengarah pada perubahan kue kelepun pun ikut mengalami perubahan sedikit nama dari kelepun menjadi kelepon. Namun tak sedikit orang yang masih menyebut kelepun pada kue kelepon. Mengenai rasa dan bahan pembuatan kelepon tak ada perubahan hingga sekarang, kelepon tetap menjunjung rasa manis dan menggugah selera. Karena Galuh tinggal di daerah Martapura maka kue kelepon tersebut disinyalir sebagai salah satu kue khas Martapura.

KOMENTAR ANTROPOLOGI

Ditulis dalam Uncategorized pada 4:43 am oleh dinayulinda

MENULIS MANUSIA PURBAKALA

 

Pada tradisinya manusia purbakala tak pernah menulis ataupun membaca itu karena tradidisi dan kebudayaan mereka. Pada saat manusia mengenal bacaan dan menulis mereka mengklem diri sebagai manusia modern namun tanpa disadari masih banyak pola budaya purbakala yang mereka lakukan. Contohnya saja, manusia pada zaman purba marah dengan manusia lain kemudian berkelahi layaknya hewan. Tapi manusia modern pun marah dan melakukan hal yang sama, padahal masih banyak jalan yang bisa menunjukkan kemarahan kita tanpa bersikap layaknya manusia purba yaitu dengan menulis, kita bisa mengkritik siapa saja lewat tulisan tanpa harus berluka – luka karena berkelahi fisik.

Begitu pula ketika kita iri melihat kemajuan negara lain, tak perlu dengki karena mereka memang benar – benar telah menjadi manusia modern dengan memanfaatkan tulisan dan membaca untuk kemajuan sementara kita masih sibuk adu mulut di warung pagi – pagi, atau bergosip ketika tak ada kerjaaan hal itulah yang menjadikan kita manusia yang terlahir di zaman modern dengan kebudayaan yang masih purbakala.

 

 

MENULIS MANUSIA PRASEJARAH

Memang saat ini kita sudah masuk zaman sejarah, dimana manusia sudah banyak yang mampu membaca dam menulis. Hanya saja zaman saat ini tak banyak berperan agar manusia yang hidup didalamnya benar – benar menjadi manusia sejarah. Banyak sekali manusia yang mamapu membaca dan menulis tapi enggan melakukannya dengan berbagai alasan, parahnya mereka beranggapan berbicara lebih menarik dibandingkan menulis ataupun membaca, tanpa di sadari mereka masih menganut pola prasejarah dalam kehidupan mereka.
mampu membaca dan menulis tak menjamin seseorang mau menulis, semuanya masih pada sibuk berbicara tanpa membuat bukti dengan tulisan. Jadi ga da bedanya dengan manusia prasejarah.