06.12.08
KOTA SERIBU PENGEMIS
Banjarmasin kota seribu sungai, julukan itu sudah melekat lama pada ibu kota Kalimantan Selatan. Namun, sadarkah kita dewasa ini kota tercinta kita seakan memiliki gelar baru di “ tubuhnya ” yakni kota seribu pengemis. Seperti sudah jadi hukum alam tiap kota besar akan di kelilingi para pengemis. Memang sangat miris mendengarnya tetapi itu lah fakta yang terjadi di Banjarmasin sekarang. Apa yang menyebabkan kenyataan itu ada dan siapa yang harus di salahkan??. Rasanya sangat sulit menemukan jawaban dari semua itu.
Menilik Banjarmasin di masa lalu kota Banjarmasin sekan sangat “ bersih ” tidak hanya dari sampah tapi juga dari gepeng maupun pengemis. Fakta itu sangat berbanding terbalik dengan Banjarmasin sekarang, kemajuan Banjarmasin dalam berbagai bidang juga berdampak pada kemajuan jumlah pengemisnya yang semakin meningkat. Saat ini, tiap sudut kota Banjarmasin seakan tak luput dari bayang – bayang pengemis. Tengok saja di lampu – lampu merah yang ada di kota Banjarmasin, di tempat – tempat makan di pinggir jalan, bahkan kadang pengemis pun berani masuk restoran. Sesuatu keberanian yang wah..tdak hanya itu bahkan para pengemis pun nekad datang ke rumah – rumah demi mendapat kan rupiah. Krisis ekonomi sejak tahun 1998 yang terus berlanjut hingga sekarang menjadi salah satu faktor keberadaan pengemis tersebut, untuk menyambung hidup mereka mengorbankan harga diri dengan mengharap belas kasian orang lain. Dalil lain sulitnya mencari pekerjaan dan terbatasnya pendidikan yang pernah di jalani. Tapi wajar kah semua itu menjadi alasan mutlak mereka, lalu apakah tak ada jalan lain untuk menyambung hidup selain mengemis ??
Rasul kita Muhammad SAW dalam hadist nya menyebutkan bahwa seseorang yang tangannya di atas lebih mulia dari pada orang yang tangannya di bawah. Rasul juga selalu menganjur kan umatnya untuk berusa dan bekerja keras. Terlihat jelas, bahwa Rasul kita menganjurkan selagi fisik kita mampu untuk terus berusaha. Tapi hal itu seakan banyak terlupakan oleh sebagian orang. Kita lihat saja pengemis – pengemis yang berkeluyuran bebas tak hanya terdiri dari orang – orang yang sudah “ setengah abad ” tapi juga mereka yang masih kuat untuk bekerja, bahkan mereka mengemis dengan menggunakan pakaian rapi, tak jarang menggunakan motor dan bertopeng sumbangan untuk yayasan ataupun banyak hal, entah apa yang terjadi pada mereka budaya malas seakan tercermin di diri mereka, seandainya saja mereka mau banyak pekerjaan yang tak memerlukan pendidikan tinggi untuk bisa di terima di sana masih banyak perusahaan yang memerlukan buruh yang bekerja pada mereka ataupun orang – orang yang memerlukan pembantu. Semua itu terlupakan oleh mereka, berganti dengan kenikmata menghasilkan rupiah dari belas kasian orang tanpa harus bekerja, fakta yang lumayan pahit bagi reputaasi kota kita.
Dalam kasus tersebut pemerintah seakan tak bisa berbuat apa – apa, bagaimana tidak, pemerintah memang sudah mengatur ketertiban para pengemis yang beraksi di lampu merah atau pun jalan – jalan raya. Tapi mereka ( para pengemis ) seakan tak habis akal dalam melakukan aksinya, di lampi merah memang akan di bersihkan oleh petugas, mereka mencari lahan baru yakni berjalan kerumah – rumah penduduk di Banjarmasin, mengetok dari pintu – ke pintu mengharap belas kasian sang pemilik rumah, dan tentunya itu sangat mengganggu sang pemilik rumah, saya rasa 90 % pemilik rumah yang di datangi para pengemis akan merasa terganggu dengan hadirnya tamu tak di undang tersebut. Anehnya lagi, seperti memiliki sambungan telepati antar pengemis kita tak bisa memberi satu dari mereka karena yang lainnya pun ikut datang dan terus datang.
Memberi sumbangan atas dasar kemanusiaan memang wajar dan di anjurkan oleh agama manapun, tapi kalau kita terus – terusan begitu sama saja kita melestarikan budaya “ pengoler ” sebagian kelompok, akan timbul hasrat mengemis lebih menyenangkan dari pada bekerja sebagai buruh karena tak menguras banyak tenaga dan hasilnya sama menghasilkan rupiah. Dalam hal ini, kita tak bisa berharap banyak dari pemerintah karena pemerintah pun seakan kewalahan jika harus melakukan rajia keseluruh pemukiman masyarakat Banjarmasin untuk mengamankan pengemis. Tapi tak ada salah nya pemerintah bersama – sama memikirkan dan melakukan sesuatu untuk mereka ( para pengemis ) teersebut agar kota kita ini bersih dari para pengemis tidak hanya di jalan tapi juga di tempat kita tinggal, ini semua demi kemajuan dan reputasi kota kita di mata dunia. Dan tak ada lagi gelar kota seribu pengemis.